DISKRIPSI SISTEM KERJA MOTOR STARTER TIPE KONVENSIONAL PADA MITSUBISHI LANCER 4 G 15
DISKRIPSI SISTEM KERJA MOTOR STARTER TIPE KONVENSIONAL PADA MITSUBISHI LANCER 4 G 15
A. Prinsip Kerja Motor Starter
Mesin membutuhkan tenaga dari luar untuk menggerakkan poros engkol dan membantunya agar mudah hidup. Diantara berbagai peralatan yang ada, sekarang auto mobil menggunakan motor listrik yang dikombinasikan dengan magnetic switch untuk mendorong pinion gear yang berputar ke dalam atau keluar dari hubungan dengan ring gear yang ada pada roda gila (fly wheel) mesin.
Motor starter harus dapat membangkitkan momen puntir yang besar dari sumber tenaga baterai yang terbatas. Pada waktu yang bersamaan harus ringan dan kompak. Oleh karena itu maka dipergunakan motor seri DC (Direct Current).
Mesin tidak dapat start sebelum melakukan siklus operasionalnya berulang-ulang yaitu langkah hisap, kompresi, usaha, dan buang. Langkah pertama untuk menghidupkan mesin, kemudian memutarkannya dan menyebabkan siklus pembakaran pendahuluan. Motor starter minimal harus dapat memutarkan mesin pada kecepatan minimum yang diperlukan untuk memperoleh pembakaran awal. Kecepatan putar minimum yang diperlukan untuk menghidupkan mesin berbeda tergantung pada kondisi dan struktur operasinya tetapi pada umumnya 40-60 rpm untuk motor bensin, dan 80-100 rpm untuk motor diesel.
Alasannya mengapa mesin tidak akan hidup sampai kecepatan putarnya mencapai tingkat tertentu meliputi:
1. Bahan bakar tidak teratomisasi sepenuhnya pada putaran rendah. Pada motor bensin, kecepatan udara masuk berpengaruh terhadap kerja karburator. Pada motor diesel, kecepatan putar pompa injeksi yang rendah tidak memungkinkan terjadinya atomisasi bahan bakar secara sempurna.
2. Temperatur yang terlalu rendah. Pada motor bensin, temperatur silinder yang rendah akan menghambat pengabutan bahan bakar. Pada mesin diesel, hingga temperatur udara yang dikompresikan didalam silinder tercapai, bahan bakar masih dapat saja gagal terbakar.
3. Karakteristik motor starter semakin rendah putarannya akan mengambil arus lebih besar dari baterai, dan baterai mungkin tidak mampu untuk memberikan tenaga yang cukup ke sistem pengapian (pada motor bensin) selama putaran awal, karena tegangan pada terminal baterai yang turun. Bila ini terjadi, maka kemampuan pembakaran akan menurun, karena tegangan yang masuk ke kumparan primer dari ignition coil tidak cukup, menyebabkan tegangan sekunder yang dikirim ke busi tidak cukup.
Gambar 02. Grafik Karakteristik Motor Starter
( PT. Toyota Astra Motor Training Manual Step 2, 1995, 15-2)
Tabel 01. Karakteristik Motor Starter
( PT. Toyota Astra Motor Training Manual Step 2, 1995, 15-6)
Tahap
Item Pemutaran awal Pemutaran meningkat
Kecepatan motor Rendah Tinggi
Gaya elektromotive lawan yang dibangkitkan pada armature coil Kecil Besar
Arus motor Besar Kecil
Momen puntir yang dibangkitkan Besar Kecil
Penurunan tegangan pada baterai dan kabel Besar Kecil
Tegangan yang diberikan ke motor starter Kecil Besar
Prinsip kerja dari motor starter adalah sebagai berikut:
1. Bila arus mengalir dalam suatu penghantar (conductor), medan magnet dibangkitkan seperti arah ulir kanan.
Gambar 03. Kaidah Ulir Kanan
( PT. Toyota Astra Motor Training Manual Step 2, 1995, 15-2)
2. Bila penghantar ditempatkan diantara kutup N dan S dari sebuah magnet permanen, maka garis gaya magnet yang terjadi oleh arus listrik dalam penghantar dan garis gaya magnet dari magnet permanen saling berpotongan menyebabkan magnetic flux bertambah dibagian bawah penghantar dan berkurang dibagian atas penghantar.
Dapat dianggap bahwa magnetic flux adalah sebagai sabuk karet yang telah ditegangkan. Jadi magnetic flux adalah gaya yang cenderung menarik pada satu garis lurus lebih kuat dibagian bawah penghantar. Akibatnya dari hal ini bahwa penghantar memperoleh gaya yang cenderung mendorongnya ke atas (kaidah tangan kiri feming).
Gambar 04. Fleming’s Left-Hand Rule
( PT. Toyota Astra Motor Training Manual Step 2, 1995, 15-2)
Lilitan kawat yang diletakkan diantara kutup magnet permanen akan mulai berputar bila diberi arus. Hal ini disebabkan arus mengalir dengan arah yang berlawanan pada masing-masing lilitan, jadi gaya yang saling memotong dari lilitan dengan magnet itu sendiri. Akibatnya lilitan kawat akan berputar searah dengan arah jarum jam.
Gambar 05. Konduktor
( PT. Toyota Astra Motor Training Manual Step 2, 1995, 15-3)
Waktu yang tepat diperoleh dengan membalikan arah aliran arus dengan menggunakan komutator, maka lilitan akan terdorong berputar terus pada arah yang sama. Gambar dibawah ini menunjukkan model yang paling sederhana dari kerjanya motor.
Gambar 06. Model Kerja Motor Sederhana
( PT. Toyota Astra Motor Training Manual Step 2, 1995, 15-3)
Motor yang sebenarnya, terdapat beberapa set kumparan dipergunakan untuk membatasi ketidakteraturan putaran dan menjaga kecepatan agar tetap konstan, tetapi prinsipnya sama. Selanjutnya motor seri DC yang dikombinasikan pada motor starter menggunakan sejumlah kumparan yang disebut field coil yang dirangkai secara seri dengan beberapa armature sebagai pengganti magnet permanen.
B. Konstruksi Motor Starter Tipe Konvensional Pada Mitsubishi Lancer 4 G 15
Motor tipe ini terdiri dari sebuah magnetic switch, motor electric, drive lever, pinion gear, starter clutch, dan lain-lain seperti terlihat pada gambar diatas.
Pinion gear ditempatkan satu poros dengan armature dan berputar dengan kecepatan yang sama. Drive lever yang dihubungkan dengan plunger magnetic switch mendorong pinion gear dan menyebabkan berkaitan dengan ring gear.
C. Komponen Motor Starter Tipe Konvensional Pada Mitsubishi Lancer 4 G 15
1. Magnertic switch
Magnetic switch dioperasikan oleh gaya magnet yang dibangkitkan didalam kumparan dan mempunyai dua fungsi sebagai berikut:
- Menghubungkan dan melepaskan pinion gear ke/dari ring gear.
- Bekerja sebagai main switch atau relay yang memungkinkan arus yang besar dari baterai mengalir ke motor starter.
Gambar 09. Magnetic Switch
( PT. Toyota Astra Motor Training Manual Step 2, 1995, 15-8)
Keterangan:
a. Hold-in coil (kumparan shunt), sebagai penahan plunger
b. Pull-in coil (kumparan seri), sebagai pendorong plunger
c. Plunger, sebagai penarik tuas penggerak
d. Terminal C, sebagai penghubung arus ke kumparan medan
e. Terminal 30, sebagai penghubung arus dari accu
f. Contact plate, sebagai penghubung terminal C dan terminal 30
g. Pegas pembalik, sebagai pegas pengembali plunger
Cara kerja:
Bila pull-in coil dan hold-in coil dialiri arus dari baterai maka kumparan akan menjadi magnet sehingga inti akan terlempar, terdorong dan berhubungan dengan contact plate pada terminal 30 dan terminal C.
2. Field coil
Gambar 10. Field Coil
( PT. Toyota Astra Motor Training Manual Step 2, 1995, 15-7)
Keterangan:
a. Pole core, sebagai inti kutup pembantu flux
b. Field coil, sebagai penghasil medan magnet
c. Yoke, sebagai rumah/body
Cara kerja:
Arus listrik dari magnetic switch mengalir melalui field coil yang selanjutnya membangkitkan medan magnet untuk memutar armature.
3. Brush/ Sikat
Keterangan:
a. Brush, sebagai penghantar arus dari kumparan medan ke armature
b. Commutator, sebagai penerus arus dari sikat
c. Armature, sebagai pemotong garis-garis gaya magnet
4. Armature
Gambar 12. Armature
( PT. Toyota Astra Motor Training Manual Step 2, 1995, 15-8)
Keterangan:
a. Armature core, sebagai tempat lilitan armature
b. Armature shaft, sebagai dudukan armature
c. Commutator, sebagai penerus arus dari sikat
d. Armature coil, sebagai pemotong GGL (gaya gerak listrik)
Armature berputar diakibatkan dari interaksi antara medan magnet yang dibangkitkan oleh field coil dengan armature coil. Armature berfungsi untuk mengubah energi listrik menjadi energi mekanik dalam bentuk gerak putar.
5. Drive lever
Drive lever berfungsi untuk mendorong pinion gear ke arah posisi berkaitan dengan roda penerus, dan melepas perkaitan pinion gear dari perkaitan roda penerus.
Gambar 13. Drive Lever
(Dokumentasi)
6. Starter clutch
Gambar 14. Starter Clutch
( PT. Toyota Astra Motor Training Manual Step 2, 1995, 15-9)
Keterangan:
a. Pinion gear, sebagai penggerak roda penerus
b. Screw splines, sebagai pengatur gerak pinion
c. Clutch housing, sebagai rumah kopling
d. Clutch roller, sebagai penghalus putaran kopling
Starter clucth berfungsi untuk memindahkan momen puntir dari armature shaft kepada roda penerus, sehingga dapat berputar. Stater clutch juga berfungsi sebagai pengaman untuk mencegah terjadinya over running pada armature apabila gigi yang digerakkan (driven gear) sudah mempunyai tenaga putar karena mesin telah hidup.
Konstruksi starter clutch yang digunakan untuk motor starter tipe konvensional agak berbeda dari yang menggunakan tipe reduksi ataupun tipe planetari, tetapi prinsip dan cara kerja masing-masing sama. Bagian ini hanya menjelaskan konstruksi dan cara kerja motor starter tipe konvensional saja.
Cara kerja starter clutch adalah sebagai berikut:
1). Starter clutch selama memutarkan
Gambar 15. Penampang Motor Starter Clutch Sebelum Memutarkan Mesin
( PT. Toyota Astra Motor Training Manual Step 2, 1995, 15-9)
Armature yang berputar akan memaksa clutch housing yang beralur untuk berputar lebih cepat dari pada inner race yang disatukan dengan pinion gear. Clutch roller akan menggelinding ke arah yang lebih sempit antara clutch housing dengan inner race hingga terikat mati antara clutch housing dengan inner race. Sebagai akibatnya roller akan memindahkan momen dari clutch housing ke inner race dan selanjutnya ke pinion gear.
2). Starter clutch setelah mesin hidup
Gambar 16. Penampang Motor Starter Clutch Setelah Mesin Hidup
( PT. Toyota Astra Motor Training Manual Step 2, 1995, 15-9)
Bila mesin telah hidup momennya akan memaksa inner race untuk berputar jauh lebih cepat dari clutch housing. Clutch roller kemudian akan menggelinding mendorong pegas ke ruang yang lebih luas di dalam housing. Akibatnya clutch housing dan inner race akan saling melepas untuk mencegah starter clutch memindahkan momen mesin dari pinion gear ke motor starter.
D. Cara Kerja Motor Starter Tipe Konvensional Pada Mitsubishi Lancer 4 G 15
1. Kunci Kontak Pada Posisi “START”
Saat kunci kontak diputar pada posisi start, terminal 50 akan mengalirkan arus listrik dari baterai ke pull-in coil dan hold-in coil. Dari pull-in coil kemudian arus mengalir ke field coil dan armature coil melalui terminal C. Pada titik ini, tegangan pada pull-in coil turun karena mempertahankan aliran arus yang mengalir pada bagian motor (field coil dan armature) kecil, sehingga motor berputar dengan putaran lambat. Pada saat yang bersamaan hold-in coil dan pull-in coil timbul medan magnet akibat dialiri arus, sehingga plunger yang ada ditengah-tengah kumparan akan tertarik kekanan melawan pegas pengembali. Gerakan ini menyebabkan pinion gear terdorong kekiri dan berkaitan dengan ring gear. Kecepatan putaran motor yang lambat akan membuat perkaitan gigi menjadi lembut. Alur spiral membantu perkaitan pinion gear dan ring gear menjadi lembut.
Gambar 17. Kunci Kontak Pada Posisi Start
( PT. Toyota Astra Motor Training Manual Step 2, 1995, 15-11)
Diagram Perjalanan Arus Saat Kunci Kontak Pada Posisi Start
2. Pinion Gear dengan Ring Gear Berkaitan
Magnetic switch dan alur spiral mendorong pinion gear pada posisi berkaitan penuh dengan ring gear, contact plate yang tersentuh ujung plunger membuat main relay ON dengan menghubungkan terminal 30 dan terminal C. Akibat hubungan ini maka arus yang mengalir ke motor menjadi lebih besar dan menyebabkan motor berputar dengan momen yang lebih besar. Alur spiral memperkuat perkaitan pinion gear dengan ring gear. Pada saat ini tegangan pada kedua ujung pull-in coil menjadi sama sehingga arus tidak mengalir pada kumparan ini, oleh karena plunger ditahan pada posisinya dengan gaya magnet yang dihasilkan oleh hold-in coil.
Gambar 18. Kunci Kontak dengan Ring Gear Berkaitan
( PT. Toyota Astra Motor Training Manual Step 2, 1995, 15-11)
Diagram perjalanan arus saat pinion gear berkaitan dengan ring gear
3. Kunci kontak pada posisi “ON”
Saat kunci kontak dikembalikan ke posisi ON dari posisi START, maka tegangan yang diberikan ke terminal 50 akan terputus. Main switch tetap tertutup tetapi sebagian arus mengalir dari terminal C ke hold-in coil melalui pull-in coil. Dengan mengalirnya arus melalui hold-in coil dengan arah yang sama pada seperti pada saat kunci kontak diposisikan start, ini akan membangkitkan medan magnet yang menarik plunger. Pada pull-in coil arus mengalir dengan arah yang berlawanan, dan membangkitkan medan magnet yang akan mengembalikan plunger ke posisi semula.
Medan magnet yang terjadi pada kedua kumparan tersebut akan saling meniadakan, sehingga plunger akan tertarik mundur kembali oleh pegas pembalik. Dengan demikian, maka arus besar yang diberikan ke motor akan terputus bersamaan dengan itu, plunger akan memutuskan hubungan pinion gear dengan ring gear.
Gambar 19. Kunci Kontak Pada Posisi ON
( PT. Toyota Astra Motor Training Manual Step 2, 1995, 15-12)
Diagram Perjalanan Arus Saat Kunci Kontak Pada Posisi “ON”
E. TES KEMAMPUAN
Sebelum melakukan pembongkaran motor starter, pertama kali harus menentukan terlebih dahulu sumber masalah secara kasar dengan melakukan tes kemampuan. Hal ini disarankan untuk membantu mempercepat proses over houl. Tes ini juga dilakukan setelah perakitan kembali untuk meyakinkan bahwa motor starter bekerja dengan baik. Lakukan tes secepat mungkin (dalam 3-5 detik), jika tidak kumparan pada motor starter dapat terbakar.
Macam-macam tes kemampuan adalah sebagai berikut:
1. Tes pull-in coil
Gambar 20. Tes Pull-In Coil
( PT. Toyota Astra Motor Training Manual Step 2, 1995, 15-30)
a. Melepas kabel field coil dari terminal C
b. Menghubungkan baterai ke magnetic switch seperti terlihat pada gambar.
Periksa bahwa pinion bergerak keluar. Jika pinion gear tidak bergerak keluar, periksa kerusakan pada pull-in coil, kemungkinan plunger macet atau penyebab lain.
2. Tes Hold-In Coil
Gambar 21. Tes Hold-In Coil
( PT. Toyota Astra Motor Training Manual Step 2, 1995, 15-30)
Menggunakan baterai seperti diatas dan pinion keluar, lepaskan kabel negatif dari terminal C. Periksa bahwa pinion tetap keluar. Jika pinion gear tertarik masuk, periksa kerusakan pada hold-in coil, massa hold-in coil yang kurang baik atau penyebab lain.
3. Tes Kembalinya Pinion
Gambar 22. Tes Kembalinya Pinion
( PT. Toyota Astra Motor Training Manual Step 2, 1995, 15-30)
Melepas kabel negatif dari switch body dan periksa bahwa pinion tertarik masuk. Pinion gear tertarik, periksa return spring kemungkinan lemah, plunger macet atau kemungkinann penyebab lain.
4. Pemeriksaan celah pinion
Gambar 23. Pemeriksaan Celah Pinion
( PT. Toyota Astra Motor Training Manual Step 2, 1995, 15-30)
a. Melepas hubungan baterai dari magnetic switch seperti terlihat pada gambar.
b. Gerakan pinion gear ke arah armeture untuk menghilangkan renggang (celah), kemudian mengukur celah antara ujung pinion gear dengan stop collar.
Celah standar: 0,5-0,2 mm
5. Tes tanpa beban
a. Mengikat motor starter dengan kuat pada ragum atau lain-lainnya.
b. Menghubungkan kabel field coil ke terminal C, pastikan bahwa kabel tersebut tidak berhubungan dengan body.
c. Menghubungkan baterai dan armature seperti pada gambar.
d. Memeriksa bahwa starter berputar dengan lembut dan pinion gear bergerak ke luar.
e. Memeriksa bahwa Ampermeter menunjukkan arus yang ditentukan.
Arus spesifikasi: kurang dari 50 A pada 11 V.
f. Memeriksa bahwa pinion gear tertarik masuk dan motor starter segera berhenti bila kabel diputuskan dari terminal 50. Jika motor starter berhenti seketika, armature kemungkinan rusak.
F. Langkah-Langkah Pembongkaran, Pemeriksaan, Dan Perakitan Motor Starter Tipe Konvensional
1. Langkah pembongkaran
Gambar 25. Langkah Pembongkaran Motor Starter Tipe Konvensional
(Dokumentasi)
Lakukan pembongkaran sesuai urutan pembongkaran pada gambar diatas.
1. Magnetic switch 6. Field coil
2. Pegas pengembali 7. Armature
3. Plunger 8. Drive lever
4. End frame 9. Starter clutch
5. Brush holder dan brush 10. Drive housing
2. Langkah pemeriksaan
a. Armature Coil
1). Pemeriksaan komutator dari kemungkinan sirkuit yang terbuka
Memeriksa hubungan antara segmen komutator menggunakan ohmmeter. Jika ada segmen yang tidak berhubungan, maka armature segera diganti.
2). Pemeriksaan bahwa komutator tidak berhubungan dengan massa.
Memeriksa bahwa tidak ada hubungan antara komutator dengan armature core dengan menggunakan ohmmeter. Jika terdapat hubungan, maka komutator harus segera diganti.
Gambar 26. Pemeriksaan Komutator
( PT. Toyota Astra Motor New Step 1, 1995,2-23)
b. Commutator
1). Pemeriksaan permukaan komutator dari kemungkinan kotor atau terbakar.s
Jika keadaan permukaan kotor atau terbakar, dibersihkan dengan amplas (No. 400) atau dengan membubut.
2). Pemeriksaan run out komutator
Run out standar : 0,05 mm.
Run out limit : 0,1 mm.
Jika run outnya lebih besar dari harga maksimumnya, harus segera diperbaiki dengan jalan membubut.
Gambar 27. Pemeriksaan Run Out Komutator
( PT. Toyota Astra Motor New Step 1, 1995,2-23)
3). Pengukuran diameter komutator
Diameter standar : 32 mm
Diameter limit : 31 mm
Jika diameter komutator kurang dari harga minimum, armature segera diganti.
Gambar 28. Mengukur Diameter Komutator
( PT. Toyota Astra Motor New Step 1, 1995,2-23)
4). Pemeriksaan segmen
Memeriksa semua segmen dan keadaannya harus bersih dan terbebas dari bahan-bahan asing.
Kedalaman undercut standar : 0,5 mm
Kedalaman undercut limit : 0,2 mm
Jika kedalaman undercut kurang dari harga minimum, perbaiki dengan menggunakan daun gergaji dan dihaluskan sisi luarnya.
c. Field Coil
1). Pemeriksaan Field Coil dari kemungkinan sirkuit yang terbuka
Memeriksa hubungan antara kabel brush pada field coil menggunakan ohmmeter. Jika tidak ada hubungan, maka field frame diganti.
2). Pemeriksaan bahwa field coil tidak berhubungan dengan massa
Memastikan bahwa antara ujung field coil dari field frame tidak ada hubungan. Jika ada hubungan, maka field frame diganti.
Gambar 30. Pemeriksaan Field Coil
( PT. Toyota Astra Motor New Step 1, 1995,2-23)
d. Magnetic switch
1). Pemeriksaan plunger
Mendorong plunger ke dalam dan dibebaskan. Plunger harus segera kembali keposisi semula.
Gambar 31. Pemeriksaan Plunger
( PT. Toyota Astra Motor New Step 1, 1995,2-23)
2). Melakukan tes sirkuit terbuka pull-in coil
Memeriksa hubungan antara terminal 50 dengan terminal C menggunakan ohmmeter. Jika tidak ada hubungan, magnetic switch harus diganti.
Gambar 32. Tes Sirkuit Terbuka Pull-In Coil
( PT. Toyota Astra Motor New Step 1, 1995,2-23)
3). Melakukan Tes Sirkuit Terbuka Hold-In Coil
Memeriksa hubungan antara terminal 50 dengan switch body menggunakan ohmmeter. Jika tidak ada hubungan, magnetic switch segera diganti.
Gambar 33. Tes Sirkuit Terbuka Hold-In Coil
( PT. Toyota Astra Motor New Step 1, 1995,2-23)
e. Starter Clutch
1). Pemeriksaan pinion gear dan spline teeth
Memeriksa pinion gear dan spline teeth kemungkinan terdapat kerusakan dan keausan. Jika keadaannya rusak, harus diganti. Periksa juga ring gear terhadap keausan dan kerusakan.
2). Pemeriksaan kopling
Memutar pinion searah jarum jam dan memeriksa keadaannya, serta dapat berputar dengan lembut. Putar pinion berlawanan dengan arah jarum jam dan periksa keadaannya harus terkunci.
Gambar 34. Pemeriksaan Kopling
( PT. Toyota Astra Motor New Step 1, 1995,2-23)
f. Brushes
Pengukuran panjang sikat (brushes):
Panjang standar : 16 mm
Panjang limit : 10 mm
Jika panjang sikat (brushes) kurang dari harga minimum, brush segera diganti dan dibentuk dengan jalan mengamplas.
Gambar 35. Pemeriksaan Brushes
( PT. Toyota Astra Motor New Step 1, 1995,2-23)
g. Brush spring
Pengukuran beban brush spring dengan menggunakan pull scale:
Pull scale dibaca saat brush spring terpisah dari brush.
Standar beban terpasang : 1,4-1,6 kg (3,1-3,5 lb; 14-16 N)
Minimum beban terpasang : 1,0 kg (2,2 lb; 10 N)
Jika beban terpasang dibawah harga minimum, pegas sikat (brush spring) segera diganti.
Gambar 36. Pengukuran Brush Spring
( PT. Toyota Astra Motor New Step 1, 1995,2-23)
h. Brushes holder
Pemeriksaan isolasi brush holder:
Menggunakan ohmmeter, dipastikan bahwa brush holder positif tidak berhubungan dengan brush holder negatif. Jika berhubungan, brush holdernya diperbaiki atau diganti.
3. Langkah perakitan
Gambar 38. Langkah Perakitan Motor Starter Tipe Konvensional
( PT. Toyota Astra Motor New Step 1, 1995,2-23)
Langkah perakitan kebalikan dengan langkah pembongkaran. Lakukan perakitan sesuai urutan pada gambar diatas:
1. Drive housing 6. Brush holder dan brush
2. Starter clutch 7. End frame
3. Drive lever 8. Plunger
4. Armature 9. Pegas pengembali
5. Field coil 10. Magnetic switch
G. Spesifikasi Motor Starter Tipe Konvensional Pada Mitsubishi Lancer 4 G 15
Tabel 02. Spesifikasi Motor Starter
Keterangan Spesifikasi
Type
No. identifikasi
Kapasitas output (kW)
Voltage (V)
Jumlah gigi pinion
Direct Drive
M3T 325929601
1,0
12
8
Tabel 03. Spesifikasi Servis
Keterangan Spesifikasi
Commutator
Runout standar mm
Limit mm
Diameter standar mm
Limit mm
Undercut standar mm
Limit mm
0.05
0,1
32
31
0,5
0,2
Brush
Panjang standar mm
Limit mm
Brush spring
Beban standar kg
Limit kg
16
10
1,4 - 1,6
1,0
Celah pinion mm 0,5 – 0,2








Tidak ada komentar:
Posting Komentar